Dalam hati setiap warga Negara dari suatu bangsa, haruslah tertanam rasa cinta yang besar pada tanah airnya. Wujud dari suatu bela Negara ada berbagai macam caranya. Memakai produk dalam negeri, itu contohnya. Masuk TNI, itu contoh lain. Jadi PNS, juga salah satu bela Negara. Bangga. Rasa bangga kita sebagai bangsa Indonesia harus ditumbuhkan. Globalisasi itu penting, akan tetapi bukan globalisasi yang keblinger. Harus semuanya terkontrol. Budaya bangsa itu jangan sampe ilang. Jangan malah menganggap rendah bangsa sendiri. Indonesia itu bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai dirinya sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Oktober 2011
Rabu, 26 Oktober 2011
Cerita Soedirman

SOEDIRMAN, salah seorang pahlawan nasional dan simbol Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukanlah nama yang asing di telinga. Ia mendapat tempat istimewa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia karena menjabat panglima angkatan bersenjata pada awal berdirinya republik ini. Namun, pengetahuan tentang Soedirman yang diberikan bangku sekolah tidak pernah cukup mendalam. Sementara ketersediaan literatur yang membahas Soedirman secara khusus jumlahnya tidak memadai.
Dalam kurun waktu 25 tahun pertama pascakemerdekaan, tercatat hanya ada satu buku saja yang menempatkan Soedirman sebagai pokok bahasan, yaitu "Djenderal Soedirman Pahlawan Kemerdekaan" (1963) yang ditulis Solichin Salam. Selebihnya pembahasan tentang Soedirman selalu hanya merupakan pelengkap bagi kerangka bahasan lain seperti tentang gerakan Pemuda Muhammadiyah, kepanduan Hizbul Wathan, perang revolusi kemerdekaan, tentara, politik militer, hingga tentang Tan Malaka.
Perkembangan Sastra di Indonesia
Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru;Senin, 24 Oktober 2011
Karakter Bangsa Indonesia
Karakter bangsa; kata yang selalu muncul dan seringkali menjadi penutup
diskusi perihal penyebab keterpurukan Bangsa Indonesia di berbagai bidang.
Bukan hal baru untuk menyatakan bahwa karakter bangsa kita, ekstrimnya,
sedang berada di titik nadir. Saya sangat meyakini bahwa perbaikan karakter
bangsa merupakan satu kunci terpenting agar bangsa yang besar jumlah
penduduknya ini bisa keluar dari krisis dan menyongsong nasibnya yang baru.
Pergilah ke kantor-kantor yang berurusan dengan pelayanan publik, pasar,
hingga jalan raya; dan bandingkan dengan kondisi tempat yang sama di negar
maju, anda akan bisa memaklumi puisi Taufik Ismail yang bertajuk Malu (Aku)
Menjadi Bangsa Indonesia. Tak perlu gerah dan membuat puisi tandingan,
gunakan cermin besar untuk melihat keseharian bangsa kita (yang tentu saja
turut menelanjangi diri sendiri). Masih ada, jelas, bagian dari bangsa kita yang berkarakter
mulia; hanya sayang, jumlahnya masih minoritas.
Langganan:
Postingan (Atom)
